Seri Biografi Syaikh (20) : Tidak Jumud dan terus melakukan pembahasan
Oktober 12, 2008 at 11:30 pm Tinggalkan komentar
Tidak Jumud dan terus melakukan pembahasan
Beliau berkata, “Sesungguhnya salah satu karunia Allah atas diriku adalah mengizinkanku untuk cetakan ini yang lebih istimewa daripada cetakan sebelumnya dengan adanya tambahan pelajaran. Baik dari sisi hadits maupun fiqh. Disamping ditemukannya referensi baru untuk beberapa hadits dan biografi…
Merupakan tabiat manusia yang telah Allah gariskan atas mereka, yaitu kelemahan ilmu yang telah diisyaratkan dalam firman-Nya:
Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya (Q.S. 2: 255)
Maka sangat wajar sekali bila seorang peneliti tidak jumud dengan satu pendapat atau ijtihad yang telah lalu, apalagi bila telah jelas baginya bahwa kebenaran ada pada pendapat lain yang baru.
Salah satu faktor pembantu, disamping yang telah aku sebutkan tadi, adalah kami menemukan buku-buku cetakan terbaru yang aslinya dalam bentuk manuskrip, atau mikrofilm yang tidak dapat dijangkau oleh para peneliti dan ahli tahqiq.
Hal tersebut diatas merupakan rahasia keluarnya pembenahan dan koreksi atas buku-buku karanganku yang baru atau dicetak ulang…
(Al-Ashaalah, makalah Salim bin Ied al-Hilali 32/22)
Salah satu kata mutiara yang sering diucapkan oleh beliau adalah “ilmu adalah pembahasan, tidak mengenal jumud atau keputusasaan”. Oleh sebab itu tidak ada batas pemisah antara beliau dan kebenaran. Apabila beliau melihat pendapatnya menyimpang dari kebenaran dalam suatu permasalahan maka segera saja beliau ruju’ kepada kebenaran dengan menyatakannya. Oleh karena itulah kita dapati beliau memiliki lebih dari satu pendapat dalam sejumlah permasalahan, terutama dalam majelis-majelis beliau. Sebab itu pemahaman sangat luas, kadang datang kadang pergi.
(Al-Ashaalah, makalah Masyhur Hasan 23/36)
Entry filed under: Biografi, syaikh al-albani. Tags: .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed