Pujian Manusia Terhadap Sang Mayat
Oktober 11, 2008 at 6:05 pm Tinggalkan komentar
PUJIAN MANUSIA TERHADAP SANG MAYAT
Oleh Syaikh al-Albani
Pujian kaum muslimin tentang hal-hal yang baik terhadap sang mayat –minimal dua orang- dari tetangganya yang tergolong sebagai orang yang arif dan berilmu akan memberikan harapan untuk masuk surga.
1. Anas bin Malik Radliyallahu Anhu berkata: “Dihadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pernah lewat usungan jenazah dan beliau memujinya dengan kebaikan (orang-orang pun kemudian mengikutinya dengan memuji sang mayat). Mereka berkata: “Sepengetahuan kami, dia sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya”. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Wajib, wajib, wajib”. Kemudian lewat kembali di hadapan beliau jenazah dan beliau mengecam dengan keburukan (orang-orang pun kemudian mengikuti seraya mengecam dengan keburukan dan mengatakan, ‘Seburuk-buruk orang adalah terhadap agama Allah’). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam kemudian berucap “Wajib, wajib, wajib”. Maka Umar bin al Khaththab berkata, “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Ketika jenazah lewat di hadapanmu, engkau memujinya dengan kebaikan dan mengatakan wajib, wajib, wajib; kemudian lewat kembali usungan jenazah lalu engkau mengecamnya dengan keburukan , dan engkau katakan wajib, wajib, wajib”. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda menjelaskan: “Siapa saja yang kalian puji kebaikannya maka dapat dipastikan ia masuk surga, dan siapa saja yang kalian kecam dengan keburukan maka dapat dipastikan ia masuk neraka. (Para malaikat adalah saksi-saksi Allah di langit) sedangkan kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi, kalian saksi Allah di muka bumi, kalian saksi Allah di muka bumi. (Allah mempunyai malaikat yang dapat berbicara dengan bahasa anak cucu Adam dalam menilai seseorang yang baik dan buruk)”. Dalam riwayat lain: “Orang-orang mukmin adalah saksi-saksi Allah di muka bumi”. (HR. Al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim, ath-Thayalisi dan Ahmad)
2. Abul Aswad ad Daili berkata, “Aku datang ke Madinah sedang dijangkiti wabah penyakit yang mengakibatkan banyak orang mati. Aku pun menghampiri Umar bin al-Khaththab Radliyallahu Anhu. Ketika kami tengah duduk, lewatlah jenazah di hadapan kami dan Umar memujinya dengan kebaikan seraya berkata: ‘wajib, wajib, wajib’. Aku tanyakan kepadanya, “Apa yang wajib wahai Amirul Mukminin?” Ia menjawab, “Yang aku maksudkan memasukkannya ke dalam surga”. Kamipun bertanya, “Bagaimana bila tiga orang?” Ia menjawab, “Dan juga tiga orang saksi”. Kami bertanya lagi, “Bagaimana kalau dua orang?” Ia menjawab, “Juga dua orang”. Kemudian kami tidak menanyakan bila hanya seorang saksi. (HR. Al-Bukhari, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, al-Baihaqy, ath-Thayalisi dan Ahmad)
Kematian di Saat Gerhana
Apabila kematian yang menimpa seseorang bertepatan dengan terjadinya gerhana (bulan ataupun matahari), maka yang demikian tidaklah menunjukkan sesuatu apapun. Keyakinan atau kepercayaan bahwa hal itu menunjukkan keagungan sang mayat adalah khurafat (dongeng) Jahiliyyah dibatalkan oleh Islam melalui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Ketika putera beliau, Ibrahim, meninggal dan bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari, beliau berkhutbah, “Amma Ba’du, wahai segenap manusia, orang-orang di zaman Jahiliyyah dahulu berkeyakinan bahwa matahari dan rembulan tidak tertutup cahayanya (gerhana) kecuali karena kematian seorang yang agung. Ketahuilah sesungguhnya gerhana itu (matahari dan bulan) adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah swt. Tidaklah terjadi gerhana karena kematian seorang yang agung dan tidak pula karena hidupnya. Akan tetapi, terjadinya gerhana tersebut berarti Allah swt memberikan peringatan kepada hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, bila kalian menyaksikan gerhana, segeralah kalian berdzikir, berdoa, dan beristighfar kepada-Nya, dan perbanyaklah sedekah, bebaskan budak-budak dan lakukan shalat (gerhana) di masjid-masjid hingga gerhana berakhir”.
Khutbah tersebut adalah kutipan dari sejumlah hadits yang saya utarakan di dalam karya saya Shalatul Kusuf (Shalat Gerhana) yang saya jelaskan seluruh jalur dan sanadnya termasuk berbagai redaksinya. Dalam nukilan tersebut saya ringkas dalam bentuk satu redaksi – dan yang disini hanya sebagiannya saja. Secara lengkap ada di dalam periwayatan syaikhani dan as-Sunan.
Sumber ; TUNTUNAN LENGKAP MENGURUS JENAZAH [Asli: Ahkamul jana’iz wa Bid’ahaa. Terb. Al Maktab al Islami, Beirut dan Damascus. Cet-IV/1406 H]. Terj: A.M. Basamalah — Cet-1 — Jakarta. Gema Insani Press./ 1999. 262 hlm : 24 cm.
Entry filed under: Jenazah, syaikh al-albani. Tags: .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed